FKAK NTB: Kematian Balita di Langgudu Bukti Negara Abai terhadap Akses Kesehatan
Forum Komunikasi Aktivis Kesehatan Nusa Tenggara Barat (FKAK NTB) menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya seorang balita berusia dua tahun asal Desa Pusu, Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima, yang wafat dalam perjalanan menuju Puskesmas akibat terhambat akses jalan rusak parah. Koordinator Forum Komunikasi Aktivis Kesehatan NTB, Abdul Hafidzirrahman, menegaskan bahwa peristiwa tersebut bukan sekadar insiden medis, melainkan kegagalan sistemik dalam menjamin hak dasar masyarakat atas layanan kesehatan. “Kematian ini tidak bisa dilihat sebagai musibah biasa. Pasien meninggal bukan karena tidak ditangani tenaga medis, tetapi karena tidak mampu menjangkau fasilitas kesehatan tepat waktu. Ini adalah alarm darurat bagi pemerintah,” tegas Abdul Hafidzirrahman. Ia menyoroti kondisi infrastruktur jalan di wilayah terpencil yang rusak parah dan dibiarkan bertahun-tahun tanpa penanganan serius. Kondisi tersebut diperparah dengan ketiadaan ambulans desa dan sistem rujukan darurat yang memadai, sehingga tenaga kesehatan di lapangan dipaksa mengambil langkah berisiko demi menyelamatkan nyawa pasien. “Ketika bidan dan tenaga medis sudah bekerja maksimal, namun terhambat lumpur, jalan rusak, dan tidak adanya ambulans, maka yang gagal adalah sistem, bukan tenaga kesehatan,” ujarnya. FKAK NTB mendesak pemerintah daerah dan pemerintah provinsi agar segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap wilayah-wilayah dengan akses kesehatan sulit, khususnya desa terpencil yang rawan keterlambatan rujukan medis. Infrastruktur jalan, ambulans desa, serta dukungan fasilitas kesehatan harus menjadi prioritas lintas sektor. “Negara tidak boleh hadir setelah nyawa melayang. Hak hidup warga desa terpencil harus dilindungi secara setara dengan masyarakat yang tinggal di pusat kota,” lanjut Abdul Hafidzirrahman. FKAK NTB berharap tragedi ini menjadi titik balik bagi pemerintah untuk melakukan pembenahan nyata dan berkelanjutan, agar kejadian serupa tidak terus berulang dan selalu memakan korban dari kelompok paling rentan, terutama anak-anak.