Di sebuah sudut Lombok Timur, hiduplah seorang pria bernama Sopyan Hakim
Cerita Kehidupan di Lombok Timur-- Sopyan Namanya tak asing bagi masyarakat—bukan karena kemewahan atau kekuasaan, Kesuksesan, Kedekatan dengan Bupati dan Para Petingginghi Daerah, Provinsi hingga Pusat. Tetapi karena badai hujatan yang seolah tak pernah berhenti menghampirinya.
Sejak menjabat sebagai salah satu direktur PDAM, hidup Sopyan berubah drastis. Hari-harinya tak lagi hanya diisi dengan pekerjaan dan keluarga, tetapi juga dengan tudingan, fitnah, dan kebencian dari berbagai arah.
“Penipu!” “Tak becus bekerja!” “Cuma cari keuntungan sendiri!”
Kata-kata itu seperti hujan deras yang mengguyur tanpa jeda.
Namun di balik semua itu, tak banyak yang tahu bagaimana Sopyan sebenarnya. Ia bukanlah pria yang haus pujian. Ia hanya ingin memastikan air tetap mengalir ke rumah-rumah warga, bahkan di saat kondisi sulit. Ia sering pulang larut malam, pakaiannya basah oleh keringat dan hujan, demi memastikan pelayanan tetap berjalan.
Suatu malam, ketika semua orang telah terlelap, Sopyan duduk sendirian di teras rumahnya. Ia menatap langit gelap, matanya berkaca-kaca.
“Kenapa harus seperti ini ya, Tuhan…” bisiknya lirih.
Istrinya keluar, duduk di sampingnya, menggenggam tangannya erat. “Kamu tidak sendiri,” ucapnya lembut. “Kebenaran tidak selalu terlihat sekarang… tapi suatu saat, pasti akan muncul.”
Hari demi hari berlalu. Hujatan tak juga berhenti. Bahkan semakin menjadi-jadi. Tapi Sopyan memilih diam. Ia tidak membalas. Ia tidak melawan. Ia hanya bekerja… dan terus bekerja.
Hingga suatu hari, musim kemarau panjang melanda Lombok Timur. Banyak daerah mengalami krisis air. Namun anehnya, beberapa wilayah yang dulu sering kekurangan air kini justru tetap teraliri.
Masyarakat mulai bertanya-tanya.
“Siapa yang mengatur ini semua?”
Perlahan, fakta mulai terungkap. Program yang selama ini dijalankan Sopyan—yang dulu dianggap omong kosong—ternyata menjadi penyelamat. Sistem distribusi yang ia rancang diam-diam, kerja keras tanpa publikasi, dan keputusan-keputusan yang dulu dicibir… kini menjadi alasan banyak orang masih bisa mendapatkan air.
Satu per satu, suara yang dulu penuh kebencian mulai berubah menjadi rasa malu.
Seorang warga tua pernah datang menemuinya. Dengan mata berkaca-kaca, ia berkata, “Maafkan kami… kami salah menilai.”
Sopyan hanya tersenyum tipis. “Tidak apa-apa, Pak. Yang penting sekarang airnya tetap mengalir.”
Di situlah semua orang mulai sadar—bahwa tidak semua yang terlihat buruk itu benar-benar buruk. Kadang, seseorang harus tetap berdiri di tengah badai, menanggung luka sendirian, demi kebaikan banyak orang.
Dan Sopyan Hakim… adalah salah satunya.
Kisahnya bukan tentang jabatan. Bukan tentang pembelaan.
Melainkan tentang kesabaran… yang akhirnya berbicara lebih keras daripada semua hujatan.